Hari Guru Vs Demo UMK

Sempat tergelak mendengar seorang teman guru membacakan SMS dari anak gadisnya; “Wah, hebat ya hari guru tahun ini, semua guru disuruh berpakaian cantik, bebas dari seragam”. Si anak gadis ternyata tidak tahu, perintah untuk mengenakan pakaian bebas itu berlaku tidak hanya bagi guru, tapi bagi semua PNS di Kota Batam. Pasalnya, Tanggal 23-25 November lalu, serikat buruh menggelar aksi. Biasalah, setiap penghujung tahun, persoalan UMK selalu menjadi perdebatan dan tuntutan pekerja.

UMK yang semestinya dirundingkan tripartite; pekerja, pengusaha, dan pemerintah, hanya tinggal wacana. Selalu, perhitungan kebutuhan hidup layak (KHL) yang dilakukan Dewan Pengupahan dan pekerja, dianggap terlalu tinggi. Tahun ini, Dewan Pengupahan melansir KHL Batam adalah Rp1,303 juta. Pekerja dari SPMI meminta Rp1,764 juta, sedangkan pengusaha mematok sekitar Rp1,26 juta saja.  Seperti sudah diduga, angka tersebut juga berarti kenaikan yang sangat tinggi dibanding UMK tahun ini, yaitu Rp1,1  juta.

Pemerintah pun berat untuk menegosiasikan angka tersebut kepada pengusaha. Tentulah karena kekhawatiran akan hengkangnya perusahaan-perusahaan dari Batam karena harus membayar upah yang tinggi kepada pekerja. Walau pun, pro kontra menyebutkan sejumlah alasan; toh mereka menjual dengan dolar, kenapa harus merasa berat membayar upah dalam rupiah? atau pendapat lain yang meninjau hal ini dari sisi bisnis; apa yang akan terjadi jika peusahaan-perusahaan hengkang dari Batam, yang notabene hidup dari sector industry.

Lho.. tulisan ini kok jadi melenceng ke UMK segala ya… maksudnya begini, dalam menuntut UMK itu, serikat pekerja dari hampir semua perusahaan swasta-asing di Batam, melancarkan aksi yang tidak bisa lagi disebut kondusif. Hari pertama, aksi ditutup dengan lempar batu dari pendemo dan pelepasan gas air mata serta peluru karet dari aparat. Keadaan semakin memanas ketika aksi tersebut masih berbuntut kepada pengrusakan kendaraan pemerintah. Bahkan muncul kesan, pendemo sakit hati, tidak lagi hanya kepada pemerintah kota, tapi sudah merembet kepada staf atau PNS di Kota Batam. Kekhawatiran inilah yang melatarbelakangi pemerintah menginstruksikan semua stafnya untuk mengenakan pakaian bebas. Dikhawatirkan, jika mengenakan pakaian seragam, yang bersangkutan akan menjadi sasaran pendemo. Begitu pula dengan kendaraan, semua yang berplat merah, diimbau mengganti platnya sementara dengan yang hitam, agar seolah-olah adalah milik pribadi.

Maka begitulah akhirnya, demo hari terakhir yang bertepatan dengan HUT PGRI, disalahpahami anak teman tadi sebagai hari kebebasan guru, terutama dalam berpakaian. Apalagi, berlanjut sampai hari Jumat dan Senin esoknya.

 

PS. SMS dari seorang teman di hari guru berikut, sepertinya perlu diposting deh… (sumber aslinya, nggakk tahu ya…)

Ketika melihat murid-murid menjengkelkan dan melelahkan,

maka hadirkanlah gambaran bahwa satu dari mereka kelak

akan menarik tangan kita menuju surge.

Selamat berjuang wahai guru…!!

Kebahagiaan kita adalah saat menyadari

Murid kita adalah butiran tasbih pengabdian kepada-Nya, Allah SWT

Selamat hari guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s