Mulai hari ini aku akan kembali rajin menulis…
Mulai hari ini aku akan rajin membaca
Mulai hari ini aku akan jadi orang yang rajin
Mulai hari ini aku akan ini
Mulai hari ini aku akan itu
Dan mulai sedetik dari hari ini, semua tinggal ucapan
Begitulah kalau berjanji kalau tak ada penalti
jangankan menulis, membaca pun sekarang aku jarang. Dan seperti kebanyakan para Pelanggar Janji lainnya, aku pun mengarang alasan yang pastinya untuk membenarkan pelanggaran janji yang aku buat.Maklum saja, Kata Mas WIki, janji adalah kontrak psikologis, dan apa pun yang berkaitan dengan psikologis, bagiku tidak pernah nyata.
Begini, di suatu hari, aku pernah menonton film tentang seorang yang disarankan rekannya untuk menemui psikolog. Karena psikolognya berhalangan hadir, ia meminta sekretarisnya (yang berlatar belakang staf administrasi), untuk menggantikannya. “Kamu cukup mengatakan “lalu” “lantas”, “terus” dan “bagaimana perasaanmu?”
Maka dengan bekal beberapa potong kata itu, sang sekretaris bisa menangani si klien. Malangnya, si klien tidak tahu bahwa yang diajaknya bicara (lebih tepatnya, yang mendengarkan ia nyerocos) bukanlah seorang psikolog.
So, yang dibutuhkan bukan seorang penasehat, tapi pendengar…
Halah…ngelantur kemana-mana. Apa coba hubungannya dengan janji tadi. Ayolah kita balik lagi ke soal janji tadi. Bagi teman2 yang suka berjanji dan melanggarnya, tentunya pernah mendeklarasikan alasan berikut:
Tak punya waktu…
Sibuk mengurus anak..
Sibuk dengan kerjaan baru..
Lupa..(parah nih)
Halah…macam semua pekerjaan di Indonesia ini aku yang borong.
Sebetulnya menulis kali ini pun paksaan kepada diri sendiri untuk membuka lagi jalan supaya mau menulis lagi. Sedikit mencoba menepati janji hampir setahun lalu..hehe… Marilah kita Berjanji untuk tidak berjanji lagi

