h1

Kajari Vs Yehezkiel

January 14, 2009

wDalam suatu kesempatan bertemu dengan Kajari Batam Suharto Rasidi, aku bertanya, “Kapan eksekusi Yehezkiel dilaksanakan?” Kejari yang kini sudah membubuhkan gelar haji di depan namanya itu tak langsung menjawab.

“Ih, serem saya. Kalau bisa saya tidak membacakan hukumannya nanti,” jawabnya bergidik.

Aku heran. Apa pasal seorang Kajari enggan membacakan sanksi dalam pelaksanaan eksekusi seorang narapidana?

“Takut saya. Suer. Dulu pernah ya, saya ikut tim yang membacakan hukuman mau eksekusi..Wuih…tiga bulan itu susah tidur,” jawabnya.

Aku masih tak yakin.

“Pernah lihat lele habis dibersihkan? Bukan main itu, sudah mau masuk kuali masih gerak. Gitu juga itu. Nggak langsung mati. Amrozi cs aja sampai tujuh menit baru lewat,” katanya lagi-lagi bergidik.

Ia pun lantas menceritakan bagaimana regu tembak yang (selalu) berjumlah ganjil disiapkan. Mereka dibariskan dalam suatu formasi tanpa memegang senjata sementara menunggu pembacaan hukuman. Di depan mereka, ditumpuk senjata api dalam jumlah sama. Hanya saja, katanya bercerita (aku serius menyimak, sambil manggut-manggut), tidak semua senjata ini berisi peluru. “Tapi semua meledak. Tetep mengeluarkan bunyi…dorrr…,” katanya mengagetkanku yang terpaksa cengar-cengir bego’.

Lantas apa tujuannya hanya sebagian saja yang diisi? kejarku penasaran (nggak tahu banget soal gini). “Supaya tidak kebebanan mentalnya. Kan nggak bisa tuduh-tuduhan matinya gara-gara senjata siapa. Jadi yang nembak pun bisa agak tenang dan mikir, ‘mudah-mudahan senjata yang di aku kosong’. Makanya dibuat gitu,” jelasnya, lagi-lagi aku manggut-manggut.

“Kalau bisa, saya dimutasi saja sebelum eksekusinya dilaksanakan. Takut saya,” ujarnya berulang-ulang.

Ternyata Kajari yang sudah malang melintang di dunia hukum ini takut juga dengan resiko w2kerjaannya. Padahal baru beberapa menit sebelumnya dia bercerita. Dia kesal dengan keluhan stafnya dengan lokasi penempatan yang dianggap berat. “Haa..mental kerupuk itu. Dulu saya dikejar ular di hutan, hampir hanyut ke laut Philipina, semua saya bawa santai saja,” katanya bangga.

Sederet nama daerah terpencil disebutkannya. Pedalaman Kalimantan, yang setiap melewati hutan gelap dengan motor harus menanggung resiko dikejar kobra. Atau harus berenang mencari meja-meja dari sekolah dan menumpuknya untuk alas tidur anak dan istri di tengah banjir besar. Ada juga pengalaman sewaktu ia harus membawa empat residivis dengan perahu yang dioleng sungai besar. Tapi dibalik itu, Suharto punya nyali besar untuk mengakui bahwa ia bernyali kecil untuk membacakan perintah pelaksanaan hukuman mati. “Iya dong. Kita yang perintahkan regu tembak menghabisi nyawa orang. Berat itu,” katanya lagi.

Jadi gimana Pak? tanyaku lagi. “Ya saya cuma berharap dimutasi dulu sebelum eksekusi mati itu, kan ada lagi tu, yang kasus narkoba kalau nggak salah,” katanya.

Sampai penjelasan ini, aku masih heran dengan ketakutan Kajari. Sebab sepanjang kariernya, ia mengaku sangat jarang terlibat pembacaan perintah pelaksanaan hukuman mati.

2 comments

  1. Ironis.., Kejaksaan yang notabene penegak keadilan yang dituntut berani, namun punya mentalitas lembek dalam mengambil keputusan. Mungkin memang kalau urusan kematian,oleh kebanyakan orang masih dianggap sesuatu yang menakutkan. Tapi jika manusia memutuskan keadilan, bersandar pada yang Maha Pemberi Keadilan, saya yakin hal-hal seperti ini bisa di hilangkan.


    • Barangkali dia hanya merasa tidak berhak menjadi eksekutor menghilangkan nyawa seseorang, walau dari satu sisi, orang itu pantas mendapat ganjaran.



Leave a Comment