
Mi Wali Kota
January 12, 2009Kalau makan di PIH, coba pesan mi lendir. Rasanya lumayan enak dan disajikan dalam piring oval dalam ukuran yang bisa membuat kekenyangan. Pertama makan mi itu, aku, berenam dengan teman-teman, pesan mi rebus. Enak, begitu kesimpulan kami.
Suatu hari, aku bertiga makan di sana. Karena emang niatnya cari mi itu lagi, kami pun pesan mi rebus, ee..yang dikasi mi instan. “Ini sih istri saya tadi nawarin, saya tolak karena mau ke sini,” komentar salah seorang rekan itu.
Sempat terjadi protes dari kami. Setelah kami jelaskan bahwa yang kami maksud adalah mi dalam piring oval, bukan mangkok, barulah mereka mahfum. “Oo..itu namanya mi lendir. Yang kasi nama Wali Kota,” kata chef di sana.
Jadilah kami memesan dua porsi mi lendir. Mi instan rebus, kami singkirkan. Si chef ini pun dengan berbangga hati (terlihat lho dari gayanya) menghampiri meja kami dan menjelaskan asal muasal mi itu bernama mi lendir. Lain kali, katanya, dia akan menamakan mi ini mi Wali Kota. “Karena pak Wali dulu yang pesan begini,” alasannya sambil senyum-senyum sendiri.
Meski dengan total lima porsi, kami cukup membayar minuman saja. Lima porsi mi itu, free lantaran kami menanggapi serius penjelasannya tentang mi lendir ala wali kota itu. Dan sepenuh hati, memuji rasanya, (kecuali sayurnya yang sering kali diganti-ganti, kalau apes, kawan bisa dapat kubis doang…)

