
Bukan Kita yang Takut Isteri, tapi….
January 6, 2009
“Bukan kita yang takut isteri, tapi isteri yang tidak takut sama kita”… Kalimat ini seringkali aku dengar dari beberapa pejabat di Pemko Batam. Awalnya sih ditanggapi iseng, sekadar kalimat becanda. Tapi kalau aku pikir-pikir…
Suatu hari, seorang temanku memaksa cowoknya membelikannya sebuah handphone CDMA keluaran terbaru. Padahal, baru dua bulan lalu ia minta dibelikan handphone yang bisa memuat dua kartu sekaligus. “Aku tak mau tau. Pokoknya dia harus membelikan HP itu untukku,” kata temanku ini.
Sejak aku kenal dia setahun lalu, aku salut dengan kemandiriannya dalam banyak hal. Tapi soal ‘menghabiskan’ cowok, dia jagonya. Kami memberinya marga tambahan: “Panandehan” (teman-teman dari Sumbar, Riau, dan Jambi tentu paham artinya). Bukan apa-apa, aku hanya takut, nanti kalau cowok yang seringkali dianggapnya tidak ada apa-apanya itu, meninggalkannya. Entah apa jadinya. Apalagi ia baru saja membeli rumah type 72 yang setiap bulan dicicil cowoknya, begitu juga motor.
Berulang kali aku dan teman yang lain mengingatkan bahwa apa yang ia lakukan tidak baik. Sampai-sampai cowok itu tidak bisa membantu kakak perempuannya sendiri yang baru saja menjanda, didahului suaminya menghadap Tuhan. Si cowok sendiri, mengaku tak bsia berbuat apa-apa karena sudah terlanjur janji membahagiakan pasangannya. Meski seringkali pula, si cowok mengeluh kepada kami, teman-teman ceweknya.
Ah, barangkali ini salah satu bukti ucapan pejabat di Pemko itu, Bukan suami (cowok) yang takut istri (cewek), tapi istri (cewek) yang sudah tidak takut lagi pada suaminya (cowoknya)


hmm.. Ambo raso memang sarupo ko zaman barubah kini..
Btw Wen, do you married or no? kok alun capek2 lah dapek jodoh, tapi jan jadi sarupo tu ndak he..he..
Keep in Writing..
Saya juga termasuk suami takut istri wen. Saya bangga akan hal ini.
Saya takut kalau istri saya tak makan, saya takut kalau istri saya sedih, dan sebagainya. itu saja…
I go with it…untuk konsep tanggungjawab, bukan tuntutan tak masuk akal