
Coklat Panasku Bermerk Tajin
November 8, 2008Langit mendung. Angin mulai bertiup kencang. Di Padang Panjang ini, cuaca seperti mendung biasa terjadi. Setiap sore, bisa dipastikan hujan. Menjadi kebiasaan kami kalau janjian ketemu atau bepergian, sangat jarang di sore hari. Aku pulang sekolah. Mengayun langkah cepat-cepat menuju rumah yang jaraknya tak sampai 200 meter. Aku setengah berlari. Takut hujan. Karena walau dilahirkan di kota dengan curah hujan tinggi, aku tak tahan dingin. Aku biduran. Kalau sudah kumat, nenek akan mengambilkan tanggok burok, tangguk ikan yang sudah jelek untuk menggaruk badanku yang mulai bentol-bentol. Sesudahnya, akau akan disuruh mengenakan kaos kaki dan baju hangat.Dalam bayanganku, aku sudah seperti bule di negara bercuaca empat. Pakai kaos kaki di rumah, pakai baju hangat, dan duduk berdiang di depan perapian. Padahal aku hanya mengenakan kaos kaki yang berbeda kiri dan kanan karena masing-masing pasangannya hilang atau robek dan tak layak pakai lagi. Sedangkan baju hangat yang aku katakan adalah baju-baju kaos kedodoran milik ibu atau tante. Tentunya masih kurang bule kalau aku tak pakai syal. Maka aku ambil selendang atau kain panjang nenek yang sudah terbagi menjadi dua potong sepanjang satu meter, hingga tak pantas lagi disebut kain panjang. Kain atau selendang itu kulilitkan di leherku. Ini adalah syalku.
Lengkap sudah dandananku. Aku pun menonggok di depan perapian dengan posisi memegang cangkir. Dari yang aku amati sendiri, hmm…okelah, pikirku. Dari minta pendapat nenek juga ok. Dari bayangan yang terpantul di cermin usang, aku persis orang asing. Orang asing di dalam rumah karena lebih pantas berada di tengah-tengah sawah. Menjaga padi dari hinggapan burung.
Mantap betul penampilanku. Dari kelengkapan atribut, sudah bisalah aku meniru kebiasaan bule-bule berhidung mancung itu. Walau hidungku sendiri hanya sedikit lebih mancung dari pipiku dan coklat panasku adalah air tajin yang diberi sedikit taburan kelapa dan garam. Kata nenek, tajin bagus buat mengencangkan kulit dan membuat cerdas. Tapi setelah 10 tahun hidup, aku belum cukup cerdas untuk menerima penjelasan air tajin bisa membuat kulit jadi licin, kecuali jika dilumuri di sekujur tubuh. Itu pun kalau masih basah. Kalau sudah kering, kulit yang aku lumuri tajin tadi bakal mengkerut dan mengelupas seperti kerak kudis. Juga kenapa nenek yang hampir setiap hari minum tajin kulitnya bukan makin kencang, tapi makin keriput.
Benar saja, sampai di rumah, hujan mulai menetes. Membasahi tanah-tanah dan membuat dinding luar rumah kami kian dipenuhi lumut hijau. Kata guru di sekolah, lumut adalah tumbuhan perintis. Entah apa maksud kata perintis itu aku pun tak tahu. Mungkin aku perlu minum tajin lebih banyak untuk paham arti kata itu. Tapi kata guru juga, lumut bisa membuat batu jadi tanah. Kalau begitu, lumut bisa membuat rumah kami jadi tanah dong. Wah ini gawat. Rumah kami bisa hancur. “Ayo Ri, kita tempelkan lumut ini di vas bunga tantemu. Biar kalau jadi tanah, kita bisa bawa sebagai hasil kerajinan tangan bebas saat mau naik kelas nanti,” tentu saja, ide gila itu muncul dari mulut Rika. Si anak guru dengan rumah bertingkat dan sangat bagus dibanding rumah kami yang bagian tengahnya sudah retak. Dari retakan selebar 1,5 senti
itu, pernah kusemai satu butir padi dan tumbuh. Tapi nenek malah mencabutnya sebelum sempat berbuah. Katanya bisa bikin rumah runtuh. Yee…padahal kata Bu Guru, tanaman bisa menjaga tanah. Nenek pasti baru minum tajin beberapa tahun belakangan saj, buktinya, nenek nggak tahu kan, klau akar tumbuhan itu bagus buat menjaga retakan di tengah rumah kita tidak makin besar…


[...] Coklat Panasku Bermerk Tajin November 8, 2008 3:12 pm admin Dari Blogger – Agreegator Dari http://wewen21.wordpress.com/2008/11/08/coklat-panasku-bermerk-tajin/ [...]