Tanyalah sejumlah orang satu kata terkait lebaran, tapi harus spontan. Dari percobaan saya terhadap hal ini, ada dua jawaban mayoritas, ketupat dan mudik. Saya pun akan masuk sebagai golongan penjawab ‘ketupat’. Nah, siang kemarin, waktu sedang mengamati lalu lintas orang ke Singapura dan Malaysia lewat pelabuhan Batam Centre, secara tak sengaja, aku melihat dua karung besar sarang ketupat dan beberapa puluh sarang ketupat tercecer di lantai, tak jauh dari tempat menunggu barang di tempat kedatangan penumpang di pelabuhan itu. Read the rest of this entry ?
Archive for September, 2008

Situasi yang Menguntungkan
September 27, 2008
Berbagai adegan berdurasi 23 menit dirangkai menjadi satu petunjuk yang membawa seorang agen rahasia Thomas Barnes (Dennis Quaid) kepada satu petunjuk. Pemandangan 23 menit dari kacamata sejumlah orang yang berakhir pada satu klimaks, tertembakny asang presiden dan ledakan sengaja sebuah bom. Bahwa yang tertembak dihadapannya bukanlah presiden Ashton asli, melainkan pria yang memang dicadangkan untuk menggantikan peran presiden dalam situasi penuh ancaman. Tepatnya saat sang presiden dijadwalkan penandatangani naskah kerjasama dengan negara Arab.
Vantage Point, film drama action berdurasi 90 menit ini, mengangkat judul itu untuk menggambarkan satu situasi rumit. Rumit karena sumber masalah dan proses terbunuhnya ‘presiden Ashton’ dan diculiknya Presiden Ashton tidak dapat dipecahkan hanya dari satu sisi saja, tidak dari sisi sang agen rahasia Read the rest of this entry ?

Antara Malu dan Terharu
September 16, 2008Sejak Senin (15/9) kemarin, TV dan koran gencar memberitakan tewasnya 23 orang warga Pasuruan, Jawa Timur akibat tergencet, terdorong, terinjak dalam aksi rebutan sedekah yang dikeluarkan seorang yang berkecukupan di sana. Ironi memang, uang yang diperebutkan dengan taruhan nyawa itu pun tak seberapa, Rp10-40 ribu saja. Memang untuk mereka yang sangat tidak mampun, angka segitu sangat berarti. Read the rest of this entry ?

Doa tahan Lapar
September 3, 2008
Penjual Putu dan Sebuah Topi
September 1, 2008Lewat di depan rumah, pedagang putu bambu. Lelaki yang kutaksir berusia 30-an ini menjajakan dagangannya dengan berjalan kaki. Sementara di pundaknya, terpikul dua kaleng besar berisi air dan kompor untuk mematangkan putu yang ia jual.
Hari itu hujan, namun penjual putu ini tak mengenakan alas kaki atau pun topi untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya hujan. Kasihannya, ucap ibuku begitu penjual putu ini berjalan tergopoh di depan rumah kami. Ibu berinisiatif memberikan topi kepada penjual putu itu, tentunya sambil membeli putu, meski hanya sekadar untuk basa-basi agar lelaki itu mau berhenti. Read the rest of this entry ?




