
Lima Tahun Bumi Perkemahan Raja Ali Kelana
August 18, 2008
Tak dapat Dukungan, Dilirik Pramuka Singapura
Meski sudah beberapa kali menampung kegiatan kepramukaan mancanegara, namun keberadaan Bumi Perkemahan (buper) Raja Ali Kelana, Kabil masih sangat terbatas. Rencana pembangunan buper ini pun belum setengahnya terealisasi.
Dari jalan raya menuju Pelabuhan Punggur, gerbang masuk menuju buper ini terlihat. Namun untuk mencapai lapangan upacara dan area perkemahan, pengunjung masih harus menempuh perjalanan tertutup bouksit sejauh kurang lebih 4 kilometer lagi. Sisi kiri dan kanan jalan ini merupakan hutan diselingi semak perdu.Barulah mendekati lapangan upacara berukuran 65 x 65 meter, jalan selebar lima meter di sini dilapisi aspal. Pengaspalan ini harus dilakukan sebab jalan dimaksud menanjak dan berbelok tajam. “Kalau tak diaspal, tidak bisa naik sampai lapangan upacara,” jelas Ketua Harian Kwartir Cabang (kwarcab) Tato Wahju Hardjanto.
Di dataran yang lebih tinggi dari lapangan upacara, barulah dapat dijumpai area perkemahan. Jalan menuju lokasi ini masih berupa jalan setapak tanah berkelok-kelok. Jalan serupa ini sengaja dibuat agar tak mengganggu hutan yang ada di lokasi yang mampu menampung 4 ribu orang berkemah ini.
Area seluas 20 hektare ini, seperti dipaparkan bergantian oleh Ketua Harian Tato, Sekretari I Hasmili, Sekrataris II Sujarwo, dan Andalan cabang perlengkapan Tugiman, baru saja dapat dinikmati lima tahun ini. Sejak awal kwarcab Batam berdiri tahun 1985, pramuka Batam sama sekali belum memiliki area perkemahan. Praktis kegiatan berkemah dilakukan di sejumlah hutan.
Tahun 1990, kwarcab mendapat pinjampakai hutan seluas 170 Hektare di Mukakuning. Sekarang, posisinya di Belakang Kawasan Panbil. Tidak ada fasilitas penunjang yang dibangunkan bagi praja muda karana ini. Air dan fasilita MCK, mereka mengandalkan aliran air serupa sungai kecil di tengah hutan. Karena tak ada fasilitas mendukung, kwarcab pun kembali ‘bergerilya’ mencari lokasi baru. “Di masa-masa itu, kita pernah juga berkemah di Singapura,” jelas Tugiman.
Dari perkenalan ini, tercetus rencana mengadakan kemah muhibah, kemah persahabatan atau joint community camp yang diikuti empat negara, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Pengurus Kwarcab Batam pun ‘menghasut’ Sultan Johor supaya membujuk Wali Kota Batam saat itu Nyat Kadir untuk menjadi tuan rumah kemah persabatan beikutnya, tahun 2003.
Dengan masukan itu, Pemko Batam dan Otorita Bata, (OB) pun terkesan bersemangat. Satu tahun menjelang diadakannnya kegiatan perkemahan ini, OB meminjampakaikan sebuah hutan yang sekarang menjadi Buper Raja Ali Kelana.
Dengan semangat yang sama pula, Pemko Batam yang saat itu dipimpin Wali Kota Nyat Kadir, mendanai pembangunan fasilitas lokasi kemah senilai Rp2 miliar dan ditambah Rp1 miliar dari APBD untuk mendukung kegiatan kemah persahabatan yang digelar tahun 2003. “Kalau berdasarkan master plan, kita perlu dana Rp8 miliar. Tapi alhamdulillah juga,” ucap Tato mensyukuri.
Kini, di area yang berada di hutan dan ketinggian ini, sudah terbangun 35 kamar mandi putra dan 20 kamar mandi puteri, satu kantor sekretariat perkemahan dua lantai yang disebut kantor bupati denga gaya khas rumah Melayu, lapangan upacara, air tawar untuk dayung, dan listrik. Sempat juga dulu perkemahan ini dialiri air bersih dari ATB, namun karena karena tak kuat membayar tagihan setiap bulan, kini air tawar dipasok secara insidentil. “Ari tawar ada tapi jauh dan perlu empat kali pompa baru sampai ke lokasi kemah,” sambung Sujarwo.
Ironinya, usai perhelatan kemah persahabatan di penghujung tahun 2003 itu, semua semangat yang dipompakan OB dan Pemko pun melemah. Sejak saat itu, tidak ada lagi biaya pembangunan yang dikucurkan. Satu-satunya pembiayaan yang diberi adalah perawatan buper saja yang dititpkan bersama anggaran Kanpora Batam.
Bahkan sekretariat pun, yakni yang berada di Jalan Pramuka nomor 4, Sekupang saat ini pun tidak terawat dan menyedihkan. Sambunga telepon beberapa kali diputus-sambung. Bangunan pun harus perlu renovasi sebab dikhawatirkan membahayakan keselamatan orang yang ada di dalam ruangan. “Kita juga tidak punya tenaga penuh harian untuk menjaga sekretariat,” kata Sujarwo.
Akhirnya sekretariat pun berkantor di rumah siapa saja yang aktif di kepramukaan. Begitu pula segala macam kebutuhan alat tulis dan komputer. “Semua pakai punya masing-masing dulu. Bahkan tempat menanak nasi yang sering kali tak kembali,” uar Tugiman menertawakan kejadian hilangnya sejumlah barang yang dipinjamkan setiap ada kegiatan.
Akibatnya, buper yandgijaga tiga personel ini, satu dari Kanpora dan dua dari Kwarcab, terancam. Bahkan kini kabel listrik di buper harus di gulung setiap kali acara usai. “Soalnya dulu kabel listrik kita dicolong orang,” ujar Tugiman.
Yang diharapkan kwarcab saat ini, adalah mendapat bantuan anggaran rutin khusus untuk mendukung kegiatan kepramukaan Batam. Dari cerita keempat pengurus kwarcab ini, kurangnya dana membuat mereka harus giat mencari tambahan ke instansi bahkan orangtua pramuka jika ada kegiatan ke luar daerah.
Meski begitu, kwarcab tak menyerah. Potensi masukan yang kini mereka lirik adalah mengkomersilkan buper bagi pramuka mancanegara. Kwarcab akan membentuk paket-paket kemah seprti paket ekspedisi huatn dan pulau, paket kayak, paket garap kampung, paket tantangan, dan paket berkebun atau agricamp. Untuk setiap paket, pemakai lokasi, terutama pramuka asing, akan dikenakan biaya yang berbeda. “Kita sedang buat penawaran dan menggandeng EO dan alhamdulillah mereka (pramuka luar Singapura) bersedia (membayar lebih mahal,” kata Tato yang sehari-hari menjabat Kepala Balai Pengelolaan Agribisnis OB ini.
Selain diharapkan dapat memberi tambahan biaya untuk memajukan buper dan kegiatan kepramukaan Batam, datangnya para pramuka asing ke buper ini diharapkan turut mendukung kegiatan Visit Batam 2010.
Juga menyiapkan diri untuk perkemahan persahabatan Desember mendatang di Thailand. Sebab jika mengharap masukan dari para pengguna buper, tak akan dapat memberi tambahan. Pasalnya, untuk satu malam berkemah atau outbond, hanya dikenakan bayaran Rp2.500 per orang. Ini, sebut Tugiman, hanya sebagai pengganti air dan listrik yang mereka pakai.
“Yang jelas harapan priorotas kita ke Pemko Batam, dalam hal ini melalui Wakil Wali Kota Batam yang juga kakwarcab, adalah adanya anggaran rutin untuk operasional sekretariat. Lain-lainnya nanti kita usahakan bersama,” pungkas Tato. (weny)


Mari sama-sama kita kembangkan dan isi Bumi Perkemahan Raja Ali Haji Kota Batam
untuk Kependingan pembinaan generasi muda kita dalam memupuk rasa kesetiakawanan, Keterampilan, kemandirian dan leadership mereka.
Thanks & amp; Wassalam
Ria
(Ka Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Batam)
wewen21: Sesekali perlu ada out bond bersama di sini kali ya Pakā¦
setuju semua masyarakat kota batam mari kita buat suasana bumi perkemahan di teluk lengung menjadi sarana parawisata agar bisa menjadi devisa bagi kota batam dan tidak seram lagi……ihhhhhh…..serem
lanjutkan……………………
Pakai stamp “Lanjutkan” mentang2 mau Pilpress ya Mas…