
Jauhnya Maluku Berpromosi
August 14, 2008Maluku Memulihkan Kepariwisataan Pasca Kerusuhan
Gandeng SPC Hingga ke Mancanegara
Sejak kerusuhan tahun 1999, kepariwisataan Provinsi Maluku, lumpuh. Kunjungan wisata yang tadinya mencapai 14 ribu wisman per tahun, menurun drastis menjadi 650 wisman saja. Kini, Maluku berbenah, memulihkan gelar ‘pulau rempah-rempah’ dan berupaya menjual lagi kepariwisataannya.
Sejak 2,5 bulan lalu, status pelarangan masuknya wisatawan berupa travel warning ke Maluku dicabut. Sejak hari itu pula, Pemerintah Provinsi Maluku bertekad menjadikan Maluku sebagai salah satu objek wisata pilihan para wisatawan mancanegara dan domestik.
Ada tiga objek wisata yang ditawarkan Maluku melalui Maluku Tourism Office-nya, objek wisata alam, objek wisata budaya, dan objek wisata sejarah. Masing-masing kini mulai dibenahi. Serempak dengan itu, promosi terus dilakukan. Misalnya kemarin, Kepala Divisi Pemasaran Maluku Tourism Office Frans Rijoly, baru saja kembali dari tour promosinya ke Malaysia dan Singapura. Untuk keperluan ini, Maluku menggandeng PT Sumatera promotion Centre (SPC) untuk ‘menjual diri’ Maluku hingga tingkat negara-negara Asean.
Didampingi Direktur PT SPC Andi Luthfi, Frans yang kemarin baru saja kembali dari Singapura membeberkan film-film dan dokumentasi objek dan potensi wisata daerahnya. Objek wisata alam ini sudah ditawarkan dan dipresentasikan di sejumlah negara Asean, contohnya hamparan koral di sepanjang 11 ribu kilometer garis pantainya. Juga pemandangan bawah laut yang mengagumkan dengan koleksi biota laut yang tak dimiliki daerah lain. salah satu hamparan koral indah terdapat di sekitar ‘pintu kota’ yaitu goa karang yang melintasi pantai dan membentuk lobang layaknya mulut goa.
Objek wisata kebudayaan atau kultural misalnya tradisi panas pela, yakni upacara angkat sumpah baru untuk mengeratkan lagi pela (hubungan persaudaraan yang diikat dengan sumpah oleh tetua adat) dalam masyarakat. Di Maluku, cerita Frans, sebuah pela, harus membantu pela lain. “Misalnya jika sebuah gereja akan dibangun, maka pela muslimlah yang akan membangunnya, begitu pula sebaliknya,” kata Frans di Vista Hotel, kemarin.
Ada lagi yang unik yaitu tradisi mamala. Dalam kebiasaan adat masykarakat yang 92 persen daerahnya adalah lautan ini, mamala atau morela adalah upacara pelecutan daun kelapa yang maih berlidi ke punggung orang lain hingga luka-luka. Ajaibnya, usai permainan ini digelar, tubuh peserta dilumuri minyak mamala dan lukanya langsung menutup. Minyak ini tidak dijual.”Pembuatannya melalui serangkaian upacara dan doa,” katan pria yang juga wakil kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku ini pula.
Ada pula tarian bambu gila dan sejenis debus yang pemainnya harus melewati serangkaian upacara dan puasa dulu sebelum beraksi. Dalm tarian bambu gila, peserta tida dibenarkan memakai logam.
Sedangkan objek wisata sejarah atau historikal adalah dengan adanya peninggalan bersejarah Portugis dan Belanda. Masih terdapat meriam dan benteng-benteng sisa sejarah Maluku puluhan tahun silam.
Mendengar cerita dari Frans dan menyaksikan presentasi yang disuguhkan, melahirkan rasa penasaran dan ketertarikan untuk
berkunjung ke Maluku. Dalam presentasi itu dipaparkan keindahan dan kekayaan alam Maluku yang sangat potensial sebagai objek wisata. Agaknya keberuntungan ini sangat dimanfaatkan pemerintah setempat.
Sebab dalam setiap alat promosinya, Pemda setempat selalu menyertakan potensi, rencana, progres, hambatan, dan strategi dalam pengelolaan itu. Maluku tidak bicara target pengunjung, tapi lebih dulu mengedepankan perbaikan dan melengkapi semua infrastruktur penunjang. “Semua bisa dijalankan dengan dukungan dan kepedulian masyarakatnya,”sebut Frans. (weny)


