Suatu hari, pinginnn…banget makan ketupat pitalah. Tau dong, itu lho, ketupat khas satu daerah di Sumatera Barat.. Aku pun ngirim SMS ke suami supaya dibelikan ketupat pitalah. “Mas, tolong belikan ketupat pitalah” tulisku.
Dia pun balik nanya, tu jenis ketupat apa.. Setelah aku jelaskan kalau itu adalah ketupat yang sayurnya nangka, dia pun menyanggupi akan mencarinya. Satu jam, dua jam, sampai 4 jam tu ketupat belum ketemu. Kasian juga sih. Makanya lalu aku saranin beli ketupat dan sayur nangka saja. Hitung2 sekadar ngobati rasa saja. Paling tidak ketupatnya sama, sayurnya…hm..bentuknya kan mirip hehehe…
Beberapa hari kemudian, suami bertanya padaku, “Memangnya kenapa dinamakan ketupat pita?”
Aku pun bengong, dari mana nama ketupat itu muncul tiba2 di benak suami. “Lho? kan kamu yang bilang, kemarin itu pingin ketupat pita?” katanya.
“Ketupat pitalah, bukan ketupat pita,” jawabku heran juga kok bisa2nya dia keliru baca SMS-ku.
“Ooo.. kupikir ketupat pita. Kupikir “lah” itu cuma akhiran saja,” katanya tertawa2…
Oalah… salah paham ternyata…. suami mikirnya seperti kita ngomong “makanlah”, “minumlah” gitu… pantes aja di pasar tak ada yang tau..Lha yang ditanyain ketupat pita…
Untung nggak dikasi pita jepang buat bikin ketupat boongan…





Dalam suatu kesempatan bertemu dengan Kajari Batam Suharto Rasidi, aku bertanya, “Kapan eksekusi Yehezkiel dilaksanakan?” Kejari yang kini sudah membubuhkan gelar haji di depan namanya itu tak langsung menjawab.
“Bukan kita yang takut isteri, tapi isteri yang tidak takut sama kita”… Kalimat ini seringkali aku dengar dari beberapa pejabat di Pemko Batam. Awalnya sih ditanggapi iseng, sekadar kalimat becanda. Tapi kalau aku pikir-pikir…
Hari ini, pemerintah resmi memberlakukan wajib fiskal bagi yang tidak memiliki NPWP dan sudah berusia diatas 21 tahun. Kemarin, siang sekitar pukul 11.00 WIB, aku sengaja berdiri di dekat meja pengecekan fiskal luar negeri.
